GEJALA DEPRESI BISA PICU GAGAL JANTUNG!

Saat ini tak sedikit orang yang masih meremehkan gejala stres dan depresi yang mereka rasakan. Padahal depresi bukanlah masalah psikologi yang enteng. Penelitian terbaru bahkan mengungkap bahwa gejala depresi yang tak disadari dan diabaikan bisa memicu gagal jantung.

Hasil ini didapatkan peneliti setelah melakukan pengamatan terhadap 63.000 orang di Norwegia. Partisipan diminta melakukan pemeriksaan secara mental dan fisik. Setelah 11 tahun, sekitar 1.500 partisipan mengalami gagal jantung. Kebanyakan dari mereka menunjukkan gejala depresi dan stres.

Dibandingkan dengan orang yang tak menunjukkan gejala depresi, orang yang memiliki gejala depresi ringan berisiko lima persen lebih tinggi terkena gagal jantung. Sementara gejala depresi yang sedang bisa meningkatkan risiko gagal jantung hingga 40 persen, seperti dilansir oleh Health Day News (03/04).

"Gejala depresi meningkatkan kemungkinan gagal jantung, semakin berat gejala depresi yang dialami semakin tinggi juga risikonya," ungkap ketua peneliti Lise Tuset Gustad dari Levanger Hospital di Norwegia.

Banyak orang yang tak menyadari bahwa mereka memiliki gejala depresi. Seringkali pada akhirnya gejala depresi diremehkan dan diabaikan. Padahal depresi tak sekedar penyakit mental melainkan juga bisa menyebabkan masalah pada fisik.

Menurut Gustad, orang yang mengalami depresi memiliki gaya hidup yang tak sehat. Hal ini mendorong mereka melakukan kebiasaan lain yang sama tak sehatnya seperti makan berlebihan dan merokok. Pada akhirnya keduanya berujung pada meningkatnya risiko penyakit jantung dan gagal jantung.

Selain itu, depresi juga merangsang tubuh untuk memproduksi hormon stres yang lebih banyak. Detak jantung akan meningkat, begitu juga kecepatan bernapas. Hal ini bisa memicu terjadinya peradangan pada pembuluh darah dan meningkatkan risiko penyakit jantung.

Lebih lanjut Gustad menyarankan agar seseorang lebih mengenali gejala depresi dalam dirinya. Depresi lebih mudah diatasi pada tahap-tahap awal. Gejala awalnya antara lain kehilangan minat pada hal-hal yang biasanya disukai dan hal-hal di luar dirinya.
Previous
Next Post »
Thanks for your comment